Media Komunikasi D~NET Surabaya, Malang dan Bali

Tren pengembangan aplikasi mobile

Posted : 7 - 8 - 2015

Pengguna ponsel di tanah air banyak dikabarkan melebihi total penduduk Indonesia sendiri. Namun, sebenarnya pengguna smartphone hingga tahun ini hanya mencapai 52,2 juta pengguna saja menurut laporan dari perusahaan analisa Statista. Ini merupakan hal yang menarik, karena masih ada lebih dari 200 juta penduduk yang lambat laun akan beralih dari feature phone ke smartphone. Bila ini terjadi, target pasar aplikasi mobile tentunya akan semakin membesar.

Akan tetapi bagaimana perkembangan developer aplikasi mobile di Indonesia? Apakah sudah setara atau masih tertinggal dibandingkan negara lain? Untuk mengetahui jawabannya, sebuah marketplace penghubung antara developer aplikasi mobile dengan perusahaan yaitu ContractIQ melakukan sebuah riset mengenai tren pengembangan aplikasi tahun 2015.

Riset ini melibatkan berbagai studio developer dari seluruh dunia, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk di dalamnya. Beberapa fakta menarik dari riset tersebut adalah:

Android, iOS, dan cross platform merupakan bidang khusus yang banyak digarap oleh para developer mobile dimana masing-masing memperoleh persentase sebesar 26, 25, dan 20 persen.

50 persen klien developer aplikasi mobile berasal dari individu yang memilki ide untuk sebuah aplikasi dan startup. 77 persen perusahaan di antaranya yakin bahwa kebutuhan akan aplikasi mobile dari startup akan semakin kuat.

75 persen perusahaan developer aplikasi mobile merasa bahwa ranah aplikasi mobile cukup potensial bila ditinjau dari segi ekonomi dan akan terus tumbuh.

Informasi lain yang tidak kalah menarik dari hasil riset ini adalah mengenai biaya pembuatan sebuah aplikasi. Rata-rata tarif per jam pembuatan aplikasi untuk platform iOS adalah USD11 (Rp140.000), Android dan cross platform adalah USD12 (Rp150.000), dan uniknya tarif paling tinggi justru berlaku untuk aplikasi Windows yaitu USD14 (Rp180.000).

Tarif tersebut bisa dibilang masih sangat rendah apabila dibandingkan dengan negara lain. Sebut saja negara tetangga Singapura di mana rata-rata tarif per jam adalah USD50 (Rp640.000) hingga USD70 (Rp900.000). Tinggi rendahnya tarif tersebut tentunya menentukan kualitas aplikasi yang dihasilkan. Hal ini juga menandakan developer lokal masih mempunyai banyak peluang untuk bersaing dengan developer luar dari berbagai faktor, mulai dari desain aplikasi sampai peforma. Untuk mengetahui lebih lanjut Anda bisa melihat infografis dari hasil riset yang dikeluarkan oleh ContractIQ di sini.

Sumber: http://id.techinasia.com/