Meniti Sukses Lewat Google Glass

Posted : 6 - 5 - 2014

Bukan sesuatu yang tiba-tiba ketika sekelompok mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM) bisa membuat aplikasi Quick Disaster di Google Glass. Ada jalan yang harus dilalui agar bisa sukses.

Daniel Oscar Baskoro, Kepala Tim Penelitian untuk proyek ini coba mengingat kembali bagaimana awalnya kelompoknya memilih Google Glass untuk mengembangkan aplikasinya.

Saat itu ia diundang untuk menghadiri workshop Google Map di Amerika Serikat. Sepulang dari sana, Oscar kembali mendapatkan undangan untuk mengikuti program Explorer Glass. Sebuah program dari Google untuk developer terpilih yang diperbolehkan membuat aplikasi di Google Glass.

"Idenya sederhana, kita ingin bagaimana ada aplikasi yang membuat masyarakat bisa mengetahui dengan cepat dalam menanggulangi bencana. Ini memang terinspirasi dari banyaknya bencana di Indonesia," tutur Oscar kepada detikINET, Senin (5/5/2014).

Setelah disetujui, konsep dan ide Quick Disaster pun langsung diwujudkan. Tidak butuh lama, kurang dari tiga bulan aplikasi ini sudah hadir dalam versi final dan segera masuk ke kaca mata pintar ini.

"Kita memilih Google Glass karena di masa depan wearable device akan menjadi booming. Apalagi wearable kan bisa digunakan di jam tangan atau lainnya, jadi lebih mudah dan cepat digunakan," tambahnya.

Aplikasi ini memang baru hadir untuk Google Glass, namun tidak menutup kemungkinan akan diluncurkan di versi wearable lainnya. Misalnya, saat Android Wear sudah resmi dihadirkan.

Oscar mengaku tak menghadapi kendala berarti dalam membuat aplikasi ini, terutama dari segi dukungan. Karena mereka mengaku mendapat sokongan penuh dari pihak kampus UGM.

Hambatannya adalah mencari informasi yang kredibel untuk mengisi konten di aplikasi tersebut. Beruntung, di dalam tim mereka ada mahasiswa jurusan Geofisika yang mengerti seluk beluk menangani masalah bencana.

Batu sandungan lain yang dihadapi oleh para mahasiswa UGM ini, kurangnya sumber referensi ketika ada masalah di Google Glass. Karena pengembang untuk Google Glass masih sangat sedikit di Indonesia.

"Jadi ketika ada bug (celah), kita menyelesaikannya adalah dengan membaca pedoman yang sudah diberikan. Itu satu-satunya cara kita, karena pengembang developer Google Glass kan jarang," tandasnya.

Tidak berhenti sampai di Quick Disaster, lima sekawan ini rencananya juga akan membuat aplikasi lain untuk Google Glass. Saat ini yang sedang disiapkan adalah menciptakan aplikasi di bidang kesehatan.

Sumber: inet.detik.com