Tiga Resep dari Google untuk Startup Teknologi yang Sukses

Posted : 17 - 5 - 2013

Pada hari pertama hari Entrepreneur yang diadakan Google di Sydney, direktur teknik Google Australia, Alan Noble menekankan tiga isu yang harus diperhatikan para startup jika ingin sukses.

Noble berkata bahwa tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk menjadi seorang entrepreneur dan mengikuti passion mereka.

“Menjalankan bisnis Anda tidak pernah semudah sekarang. Anda bisa memindahkan infrastruktur utama dan IT Anda ke cloud dengan cara yang tidak bisa Anda lakukan lima tahun lalu. Anda sekarang bisa fokus pada ide utamanya, sesuatu yang benar-benar membuat bisnis Anda berbeda.”

Selagi Noble menekankan bagian dimana Google bisa membantu, dia juga memberikan nasehat-nasehat yang lebih umum untuk mereka yang ingin mengetahui bagaimana cara supaya startup mereka agar bisa berjalan.

Tiga isu yang penting untuk dilakukan dengan benar: masalah, pengguna, dan tim.

Masalah

Dalam inti setiap startup, Noble menyatakan bahwa pasti ada masalah yang harus diselesaikan.

“Banyak produk hebat dimulai dengan pengetahuan sederhana tentang adanya suatu masalah, sesuatu yang rusak, sesuatu yang bisa dikerjakan dengan lebih baik, lebih cepat” katanya.

Noble berkata bahwa banyak dari masalah-masalah ini yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari jika entreprenur bersikap penuh perhatian dan memiliki imajinasi.

“Jangan merasa khawatir tentang mengejar kompetisi. Carilah cara baru untuk melakukan sesuatu.”

Noble menunjuk Gmail sebagai sebuah contoh untuk penyelesaian sebuah masalah (mengintegrasikan search ke dalam email), tapi dengan cara baru.

“Kami tidak sekedar menambahkan sebuah search engine ke dalam sebuah layanan email. Kami bisa berkata ‘ada aplikasi desktop yang hebat di luar sana.’ Tapi kami tidak melakukannya. Kami membayangkan sebuah produk yang benar-benar baru.”

Pengguna

Hal nomor satu dalam daftar Google tentang “Ten things we know to be true list“, ini adalah ‘ten commandments’ perusahaan, untuk berfokus pada pengguna (user) dengan kepercayaan bahwa yang lain akan otomatis mengikuti. Noble membahas hal ini dengan bekata bahwa pengguna merupakan sumber hebat untuk menemukan masalah untuk diselesaikan, serta menghasilkan ide-ide, tapi entrepreneur masa depan harus melihat jauh lebih depan dari apa yang dikatakan pengguna, jika mereka ingin sukses.

“Fokus pada user tidak berarti secara buta mengikuti apa yang mereka katakan pada Anda,” katanya.

“Yang harus Anda lakukan adalah: Anda harus mencari masalah yang mungkin belum diidentifikasi atau dikatakan oleh pelanggan. Beberapa ide paling inovatif dalam sebuah startup adalah produk yang tidak pernah disangka orang lain.”

“Siapa yang meminta sebuah telepon yang bisa mengakses internet dan memainkan musik? Siapa yang meminta untuk menyimpan koleksi musik mereka di cloud? Atau siapa yang pernah meminta sebuah tablet PC?”

Noble berkata, dalam beberapa kasus, ide yang paling inovatif yang dimanfaatkan orang-orang pada hari ini bukanlah hasil dari kesadaran user bahwa mereka membutuhkannya.

Noble juga berkata bahwa pengguna adalah cara yang hebat untuk menguji dan memperbaiki sebuah produk, bahkan saat sebuah startup baru akan mencari pelanggan. Dia berkata bahwa pelanggan memiliki peran untuk dijalankan saat membuat prototip dan mendapat feedback dari pelanggan potensial, agar bisa mendapat perhatian dan menambah user experience.

Untuk startup-startup yang sudah memiliki pelanggan, Noble menyatakan bahwa memberi perhatian pada kebutuhan pelanggan akan menciptakan pengguna yang lebih bahagia, yang tentunya memiliki keuntungan lain.

“Pengguna yang bahagia adalah marketing terhebat yang bisa Anda impikan,” katanya.

“Kita tidak bisa selalu melakukannya dengan benar. Kadang, kita melakukan sesuatu yang tidak disukai penggunna, tapi tujuan kita adalah selalu berfokus pada pengguna, dan Anda harus fokus pada pengguna (user) juga.”

Tim

Noble berkata bahwa startup memiliki keuntungan alami yang “hampir tidak adil” terhadap korporasi, karena budaya inovatif yang berusaha mereka ciptakan, dan tipe orang yang tertarik oleh lingkungannya.

“Anda membutuhkan orang. Tapi tidak bisa sembarangan, hanya orang-orang yang memiliki passion. Anda harus menciptakan budaya inovasi, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah membiarkan orang-orang mengikuti passion mereka.”

Hal ini sulit dilakukan dalam perusahaan yang rumit dan besar, dan biasanya direkomendasikan pada para startup untuk menggunakan struktur organisasi flat dan transparan. Hal ini akan memberikan kebebasan pada karyawan untuk mengikuti passion mereka.

“Terbukalah dalam hal informasi,” katanya. “Di Google, pekerja intern yang paling muda, yang hanya akan bersama perusahaan selama musim panas, memiliki akses terhadap informasi yang sama seperti kebanyakan ilmuwan senior, yang sudah ada dalam perusahaan selama 10 tahun.”

Dia juga menyarankan, masalah apapun yang dicoba untuk diselesaikan sebuah startup, harus dipecah menjadi bagian-bagian kecil, sehingga bisa diselesaikan oleh tim kecil yang berisi tiga sampai empat orang insinyur.

“Tim yang kecil dan struktur organisasi yang flat berarti Anda bisa menggabungkan dan berbagi ide dengan sangat mudah, dan Anda bisa beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan dan kesempatan.”

Bagaimana jika Anda gagal?

Noble juga menyebutkan ketakutan paling umum yang menghalangi entrpreneur dari eksperimen mereka terhadap ide. Yakni takut gagal.

“Belajarlah untuk mengenali eksperimen gagal, dan belajar darinya. Sering-seringlah bereksperimen, dan gagal secepatnya.“ kata Noble.

“Saat Anda sedang bereksperimen dan gagal terus menerus, itu tidak disebut gagal, melainkan belajar. Jika Anda adalah sebuah startup, Anda tidak bisa tenang jika gagal terus menerus, atau gagal lebih banyak dari yang ‘diperlukan’, jadi untuk ide yang tidak berhasil, pelajari apa yang Ada bisa, ubah idenya, simpan bagian terbaiknya, dan lanjutkan lagi ke yang lain.”

Dia juga berkata bahwa entrepreneur tidak boleh takut untuk bertaruh besar. “Taruhan besar maksudnya ide yang besar. Bukan mengenai budget Anda,” katanya, sambil menjelaskan bahwa taruhan tersebut tidak harus merupakan situasi yang membuat Anda menang total atau kehilangan segalanya.

“Google Wave merupakan taruhan yang besar dan walaupun pertumbuhan user tidak besar, dari sudut pandang teknologi kami belajar banyak dari Wave. Hal itu sangat berpengaruh pada banyak produk Google yang lain. Bukan source codenya, tapi ide yang ada dibaliknya.”

Sumber: startupbisnis.com