Video on Demand Segera Menyapa

Posted : 5 - 5 - 2011

Video-on-demand (disingkat VoD) adalah sistem televisi interaktif yang membebaskan kita memilih tayangan yang ingin ditonton. Kebebasan. Di sini kebebasan menjadi sebuah pilihan. Jika kita mau membayar lebih, maka kebebasan itu akan bisa kita nikmati.

Tidak hanya menonton, kita dapat menyimpan serta mengunduh program semaunya. Untuk menontonnya dapat menggunakan set-top box dari video yang sudah diunduh atau komputer maupun ponsel.

Salah satu hal yang ingin bisa dicapai dari industri komunikasi adalah memberikan kontrol yang penuh terhadap para penggunanya. Karena itulah konsep VoD dikembangkan. Melalui konsep ini semuanya berjalan interaktif. VoD menjanjikan kepuasan yang sifatnya lebih personal. Kepentingan pribadi satu orang lebih diutamakan dibandingkan kemauan orang banyak.

Mengapa sistem ini berpeluang besar berkembang? Konsep kebebasan yang ditawarkan merupakan nilai positif yang diinginkan setiap orang. Terutama yang selama ini terkekang dengan apa yang bisa ia tonton. Dengan sistem ini, ia akan kehilangan ‘siksaan’ harus melihat apa yang ingin ia lihat. Sistem seleksi yang ada dalam setiap diri manusia pun sangat dihargai di sini.

VoD saat ini sudah sangat berkembang. Berbagai perusahaan dari seluruh penjuru dunia sudah menawarkan fasilitas ini. Konsepnya semua hampir sama, yaitu menawarkan video untuk diunduh. Bisa berupa rent ataupun purchase.

Dari segi harga juga ada perkembangan yang cukup signifikan. Harga yang murah dan bahkan gratis sudah bisa didapat konsumen. Terutama dari stasiun televisi yang membagi-bagikan programnya.

Namun kehadiran VoD bukan berarti tanpa masalah. Jika di negara maju seperti Amerika atau UK, kemungkinan VoD akan laris. Akan tetapi di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar. Persentase pelanggan televisi kabel saja tidak terlalu besar. Apalagi dengan konsep VoD yang masih baru ini.

Besarnya angka pembajakan juga menjadi faktor. Jika ada bajakan yang murah, mengapa harus repot-repot membayar mahal. Prinsip seperti ini dianut banyak orang, sehingga konsep ini akan dengan sendirinya sulit berkembang.

Secara world-wide, konsep VoD dipercaya akan terus dan terus berkembang. Mulai dari rumah ke rumah hingga hotel mewah saat ini telah mulai menggunakan VoD. Respon masyarakat juga sudah semakin besar terhadap konsep ini. Tentu masa depan VoD bisa dikatakan cerah

 
Hadir di Indonesia

Di Indonesia, masa depan VoD masih belum jelas. Kemungkinan berkembangnya teknologi ini tetap ada, tetapi dibutuhkan sebuah breakthrogh. Salah satu perusahaan yang mencoba peruntungannya adalah First Media.

VoD First Media memanfaatkan teknologi serat optik yang memiliki bandwidth tinggi sehingga mampu menampilkan video interaktif yang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan video berteknologi satelit.

Pelanggan HomeCable First Media dapat langsung menikmatinya dengan menambahkan HD box digital seharga Rp. 100.000. Dengan layanan ini Anda dapat merencanakan dan merekam pertandingan bola yang tayang di tengah malam yang tersimpan dalam server berteknologi Cloud Computing First Media. Sehingga Anda tidak akan ketinggalan pertandingan atau siaran berita fenomenal karena keterbatasan waktu yang dimiliki.

Untuk mempersiapkan layanan ini, First Media mengalokasikan bandwidth sebesar 320 Mbps, dimana mereka membutuhkan bandwith didicated 8 Mbps untuk menyediakan kualitas gambar yang baik dari VoD.

Jumlah bandwidth tersebut diklaim mampu dipenuhi oleh perusahaan yang bernaung dalam grup Lippo ini. ”Setiap area kami memiliki delapan kanal dengan kapasitas masing-masing kanal 40 Mbps. Sehingga total bandwidth yang kami sediakan ada 320 Mbps. Cukup besar untuk melayani VoD,” jelas Marcelus Ardiwinata, Deputy Director Strategic Business Development.

Selain First Media, sebenarnya IP TV, anak perusahaan Telkom, telah menyediakan layanan mirip dengan VoD. Namun mereka tidak gentar. Karena IP-TV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP).

“Sejauh yang kami tahu di pasar saat ini First Media paling kompetitif dari sisi harga dan teknologi. Jika memang ada teknologi baru yang dianggap kompetitif, tentu akan dipelajari,” ungkapnya.

Menunggu Kesiapan Konten Lokal

Bocoran yang beredar di berbagai media, paling lambat dalam Q2 tahun 2011 ini VoD sudah akan diluncurkan untuk umum, setelah sebelumnya bisa dinikmati di beberapa hotel bintang lima seperti Sultan Hotel di jakarta. ”Secara sistim, sudah ready. Namun sayang kalau dihadirkan sekarang tapi konten lokalnya masih sedikit,” ungkap Marcel.

”Kami mencoba mengajak komunitas untuk ramai-ramai membuat konten lokal, seperti kampus untuk belajar dengan dosen secara on demand lewat video. Kami ingin TV komunitas mengisi konten on demand, kurang seru kalau kontennya asing terus," ujarnya lebih lanjut.

Karena alasan inilah First Media merangkul sejumlah proggramer Java di kalangan universitas, production house, dan TV developer dalam workshop yang bertujuan mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat, khususnya peminat teknologi siaran TV mengenai cara membuat konten TV interaktif.

Dalam pelatihan tersebut, First Media bekerja sama dengan Advanced Digital Broadcast (ADB), perusahaan penyedia set top box First Media. Perusahaan itu memberikan penjelasan teknis mengenai teknis pemrograman televisi berbasis Java dengan menggunakan settle box ADB yang diberi nama MHP (Multimedia Home Platform).

Pelajaran yang diberikan seperti bagaimana membuat aplikasi di televisi (mengatur tata letak layar, ukuran huruf, simplifikasi) cara penerapan dan pembuatan aplikasi lokal Interactive, penerapan dan pembuatan aplikasi full interactive serta memanfaatkan browser untuk membuat portal internet di televisi. Untuk mengisi VOD, konten dibuat dalam format digital sehingga set top box dapat diisi berbagai aplikasi

Targetkan 1,7 Pelanggan

Sementara itu Dicky Moechtar, Direktur First Media, mengatakan akan memfokuskan layanan ini pada segmen pasar kelas A,B, dan C+. Kelas A adalah rumah tangga dengan pengahasilan di atas Rp 3,5 juta disposable income hingga C+ yang mewakili pendapatan Rp 1,6 juta disposable income.

”Total ada 23,5 juta populasi di Jabodetabek, maka ada sekitar 1,7 juta rumah tangga segmen A,B,C yang potensial menjadi pasar utama VOD. Dalam 3 bulan pertama di 2011 kami targetkan akan mampu menjaring 10 ribu rumah,” kata Dicky.

Dicky menghitung, potensi pasar VoD akan besar karena sejumlah faktor menyajikan layanan interaktif dan juga menyediakan program yang dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan minat pelanggan.

VoD memungkinkan pelanggan menyimpan program siaran TV yang diinginkannya untuk ditonton sesuai dengan waktu luang ataupun berulang kali yang tidak dapat disediakan siaran TV free to air atau TV berbayar.

First Media pun akan menyiapkan beberapa opsi untuk skema VoD. Biayanya bisa saja per konten atau per bulan. ”Nah, justru konten yang kami rasa banyak dinikmati adalah konten lokal. Film Suster Ngesot, mungkin banyak yang agak malu menontonnya di bioskop, tapi masih penasaran. Mereka bisa saja menonton di rumah dengan biaya misalnya Rp 10 ribu. Kalau film box office orang biasanya lebih memilih untuk menonton di bioskop,” paparnya.

 Sumber: kontan, wikipedia, kompas, chip.


OTHER ARTICLES
© Copyright by D~NET Surabaya 2011 | This site is best viewed with a resolution of 1024x768 (or higher)
back to top