D~NET Website      Homepage     

Kartini Entrepreneur Indonesia

Posted : 6 - 3 - 2012

Saat ini dunia usaha tidak hanya dimonopoli oleh kaum pria, kaum wanita juga telah terjun kedunia ini. Bahkan banyak yang menjadi sangat sukses di bidangnya. Keterlibatan kaum wanita di dunia bisnis memberikan warna tersendiri.

Merry Riana - Merry Riana Organization

Wanita energik ini ketika usianya menginjak 24 tahun sudah berhasil menjadi milyuner. Tidak tanggung-tanggung kesuksesan itu diraih tidak di negerinya sendiri, Indonesia, melainkan di Singapura.

"Saya sukses seperti sekarang karena keterpaksaan," ujar Merry. Menurut Merry ia terpaksa mengungsi ke Singapura karena saat itu Jakarta dilanda kerusuhan Mei 1998. Merry yang kala itu tidak cakap berbahasa Inggris dan tidak banyak uang benar-benar prihatin.

Setelah berhasil menyelesaikan kuliahnya di Nanyang Technological University Singapura dan menggondol gelar insinyur, Merry memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Ia mulai merangkak sebagai sales dari bermacam barang. Namun berkat keuletan dan ketabahan, Merry yang kini menjadi Duta Produk LG di Asia ini bisa meraih sukses dan mendirikan Merry Riana Organization bersama teman-temannya.

 

Diane Keng - www.MyWeboo.com

Diane Keng menunjukkan bahwa ia bisa merintis jalan sebagai pengusaha, meskipun ia masih duduk di bangku SMA. Bersama kakaknya, ia sukses meluncurkan situs MyWeboo.com, yang berguna membantu sesama remaja mengatur situs jejaring sosial ke dalam satu wadah.

Diane Berstatus sebagai Founder sekaligus direktur pemasaran/marketing. Sementara kakaknya Steven, sebagai kepala eksekuif korporat (CEO). Diane mengaku MyWeboo.com merupakan bisnisnya yang ketiga. Bisnisnya yang pertama adalah usaha sablon kaus yang ia rintis ketika berusia 15 tahun. Lalu, firma konsultan pemasaran produk remaja. Namun, bisnis ini membuatnya sulit membagi waktu belajar dan bergaul.

Diane pun beruntung lantaran tinggal dan bersekolah di Silicon Valley. Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat produksi barang berteknologi canggih, dan tentu saja banyak orang pintar dan bekerja di kawasan itu.

 

Metta Murdaya -Kosmetik Juara

Mungkin Anda tidak pernah mendengar merek kosmetik Juara. Tapi produk ini merupakan salah satu produk kecantikan yang cukup terkenal di Amerika. Juara memang kosmetik yang diciptakan dan dikembangkan di Amerika Serikat. Tetapi, bahan dan kandungannya diambil dari Indonesia.

Dan Metta Murdaya adalah orang yang mempelopori terciptanya kosmetik yang berdiri sejak tahun 2004 ini. Di perusahaan yang bernama Loisaida Labs LLC. ini, Metta didapuk sebagai CEO-nya, sekaligus bertanggung jawab di bidang keuangan, desain dan pengembangan produk.

Sejak berdiri tahun 2004 revenue-nya selalu tumbuh triple (300 persen) per tahun. Selain itu produknya sudah hadir di 120 gerai toko yang tersebar di AS. "Kami masih muda dan berkembang. Sejauh ini tanggapannya sangat bagus," katanya terkesan memantapkan diri. Metta mengaku selalu terngiang pesan ibunya, Siti Murdaya, bahwa sukses bisnis itu 10% karena faktor lucky dan 90 persen berkat kerja keras.

Begitulah Metta. Kedewasaan dan kematangan yang diperoleh dari berbagai eksperimen itu telah memantapkan kakinya untuk tetap berbisnis di Amerika, negara dimana Metta dibesarkan selama ini.

 

Riana Bismarak - Below Cepek

Tak selamanya baju bagus harus mahal. Bahkan, baju yang indah bisa didapatkan dengan harga "below cepek", alias di bawah Rp 100.000 saja. Untuk memberi peluang bagi para konsumen untuk tetap gaya tanpa perlu keluar banyak uang itulah, Riana Bismarak pun antusias untuk membuka online shopping-nya yang diberi nama Below Cepek.

"Ide ini tercetus karena saya suka banget belanja baju online, tapi untuk barang-barang dari luar negeri harganya mahal, namun kadang tak memuaskan. Makanya saya akhirnya buat online shopping sendiri," ungkap pemilik BelowCepek.com ini.

Bila sebelumnya Below Cepek "menumpang" di situs e-commerce Multiply.com, kini toko online ini telah berdiri sendiri dengan alamat www.belowcepek.com. Toko ini memberikan kategori barang yang ingin dicari, berdasarkan harga, tema, serta barang baru atau yang di-sale. Kemudian setiap item langsung diberi contoh mengenai warna-warna pilihan, disertai ukuran lingkar dada, lingkar bahu, dan lingkar pinggang. Dengan demikian, pembeli bisa mengukur apakah baju yang ditawarkan tersebut akan sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Semua koleksi busana yang dijual di situs ini merupakan buatan Indonesia. Menurut Riana, baju buatan Indonesia tak kalah bagus dengan koleksi baju-baju yang didatangkan dari luar negeri seperti Bangkok, Hongkong, atau Shenzen.

 

Anantya van Bronckhorst - Think.web.id

Anantya van Bronckhorst tersenyum dengan semangat. Di dunia startup digital Indonesia, namanya dikenal karena kiprahnya sebagai entrepreneur perempuan bersama Ramya Prajna di Think.web.id.

Anatya, demikian ia disapa, patut bangga dengan keputusannya sekitar 5 tahun lalu untuk menanggalkan status karyawan dan memilih untuk membangun Think.web.id. Kini ia bersama timnya menikmati hasil jerih payah. Think.web.id makin menanjak.

Rencana ke depan Anatya yaitu mencari partner atau investor untuk ekspansi lokal atau ke luar negeri. Kini kami juga merancang rencana 5 tahun mendatang. Prediksi jumlah anggota tim ada di angka 50-60, tetapi kenyataannya tidak sebesar itu karena ruangnya terbatas.

Rencana yang lain yaitu ekspansi, dari bidang digital agency ke mobile apps. Dia mau investasi ke mobile untuk berbagai platform device yang bervariasi, entah itu tablet, smartphone. Karena pasarnya bisa diamati semakin menjanjikan dari waktu ke waktu.

 

Fandayani Soesilo - belibu.com       

Fandayani Soesilo punya cara tersendiri agar bisa ikut membantu tingkat pengangguran di Indonesia. Melalui Maetrika, wanita yang kini memegang posisi CEO tersebut berusaha menjembatani antara para pemilik modal dan pemilik usaha untuk bersinergi mengembangbiakkan perusahaan-perusahaan.

Maetrika adalah perusahaan yang menjadi mediator antara pemilik usaha dari kelas teri hingga kakap dan para pemilik modal. "Sasaran perusahaan kami adalah pengembangan kewirausahaan yang berdampak positif kepada masyarakat dan komunitas," ujarnya.

Melalui Maetrika, Fandayani pun berusaha membawa investor tersebut untuk melahirkan perusahaan baru yang berkelanjutan dan menguntungkan. Fandayani mengatakan, bisa dibilang perusahaannya sebagai private incubator yang mendirikan serta mengembangkan perusahaan baru di mulai dari ide atau konsep. Termasuk di antaranya mencari sumber pendanaan sekaligus menawarkan akses ke jaringan patner strategis baik tingkat domestik maupun internasional.

Wanita kelahiran Surabaya ini setidaknya sudah berhasil menjalankan beberapa inovasi yang dibuat dan salah satunya dengan membuat situs jual beli bernama belibu.com. Situs ini menjadi semacam incubator atau tempat dimana perusahaan ini sebagai penengah dari investor ke masyarakat.

Tidak hanya menyasar kepada pelaku bisnis besar, situs tersebut dibuat agar bisa juga diakses tak hanya pedagang besar, tapi juga pengusaha kecil agar dapat mempromosikan bisnisnya. "Inilah cita-cita terbesar saya, karena kalau ini dilakukan, maka dapat meningkatkan pendapatan mereka juga," tambahnya.

 

Iim Fahima Jachja - Virus Communication

Perempuan 33 tahun ini adalah empunya perusahaan jasa solusi bisnis digital. Bersifat dinamis dan sarat akan kecepatan serta kreatifitas, Iim Fahima Jachja mengaku telah jatuh cinta pada bisnis digital.

Virus Communication adalah usaha yang dijalani Iim. Di tahun ketiga, bisnisnya sukses menggandeng perusahaan nasional serta multinasional yang berlokasi di dalam negeri plus memenangi tender tingkat regional.

Tahun 2009, pasca merger dengan Virtual Consulting, Iim memegang kendali perusahaan jasa layanan digital yang saat ini telah sukses mempekerjakan 70 karyawan dan menggarap brand dari klien-klien blue-chip. "Solusi bisnis digital itu tidak semata kampanye iklan. Bentuknya bisa online sales, komunitas, manajemen relasi dengan konsumen, bisa juga menggarap social media untuk membangun loyalitas konsumen," ujar Iim.

Iim tak luput memanfaatkan jejaring sosial untuk membantu bisnisnya. Sebagai contoh, suatu merek oli motor sebagai kliennya, ia bersama Virtual Consulting membentuk Komunitas Gila Motor dari jejaring sosial. Tercatat, komunitas itu kini beranggotakan lebih dari 200.000 orang.

Bagi Iim, social media sekadar medium yang perlu diolah dengan strategi untuk menciptakan nilai lebih pada suatu merek. Tetapi loyalitas selalu berakar dari pengalaman konsumen terhadap produk itu sendiri. Bentuk komunitas digital memperlebar area bisnis serta menjadi tantangan bagi bentuk media lain untuk mengubah strategi bisnis bukan untuk saling mematikan. Aspek offline dan online harus digarap sebagai sinergi, bukan musuh.

Membagi rahasia kesuksesannya, Iim berkeyakinan bahwa passion, kesenangan untuk terus belajar serta mencari tantangan baru merupakan faktor penentu dalam mengelola bisnis sekaligus resep ampuh menuju keberhasilan.

 

Jully Tjindrawan - World Robotic Explorer

Sebagai pengusaha tekstil, Jully Tjindrawan boleh dibilang sudah sukses. Tapi, dia belum puas. Dia pun mendirikan World Robotic Explorer (WRE) yang kemudian disebut sebagai rumah robot pertama di Asia Tenggara. Uang Rp 20 miliar pun digelontorkan untuk bisnis ini.

Orang yang tidak mengenal Jully mungkin akan mengira dia seorang pakar robotika. Padahal, itu sepenuhnya salah. Awalnya, Semua berawal pada 2005. Saat itu, dia mengorder sejumlah item barang dari Jerman yang dikira model konstruksi biasa untuk dirakit. "Ternyata, saya salah pesan. Yang datang satu kontainer barang-barang robotika," ungkapnya.

Bentuknya sepintas mirip lego. Tapi, lebih rumit dengan jaringan elektronik di dalamnya, lengkap dengan keping-keping VCD sebagai program. Ternyata, itu adalah instrumen kerangka robot yang paling mendasar. "Belakangan saya tahu, istilahnya figure atau model konstruksi mekanik. Sangat banyak barang yang saya pesan itu sampai saya ditunjuk menjadi distributor," ujarnya.    

Merasa buta dengan dunia robotika, Jully sempat enggan untuk meneruskan. Latar belakang pendidikan Jully memang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia robotika. Dia meraih gelar S-1 finance dari Fresno State, AS, dan S-2 finance marketing dari National University, San Diego, AS. Tapi, salah seorang stafnya menyarankan agar Jully jalan terus. Apalagi, peminat robot di tanah Air sebenarnya lumayan banyak. "Dari situ, saya mulai mempelajari apa robot itu. Ternyata sudah mendunia banget," tuturnya.

Tak terlalu lama, dia sukses menjalin kerja sama dengan belasan sekolah di Jakarta yang mengakomodasi muridnya mempelajari dunia robotika melalui program ekstrakurikuler.

Jully memulai bisnis robot dari segmen anak-anak. Sebab, perangkat model konstruksi yang tanpa sengaja dia borong memang merupakan media pengenalan awal mengenai robot kepada anak-anak.

Sumber: indopos, kickandy, ciputraentrepreneurship.com, kompas.