TKW: Gambaran Kartini Masa Kini

Posted : 1 - 3 - 2011

Bulan April adalah bulannya Kartini. Karena tepat 21 April, bangsa ini merayakan kelahiran Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan Nasional yang dikenal dengan emansipasi terhadap perempuan. Kartini tidak hanya dikenal lewat surat-suratnya, namun cita-citanya yang ingin melepaskan perempuan dari belenggu diskriminasi di masa kolonialisme menjadi pendorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Semua terungkap dalam surat-surat yang ditulis Kartini pada sahabatnya di Belanda, yang kemudian dibuat buku dan diberi judul Door Duistermis Tox Licht –Habis Gelap Terbitlah Terang-.

Ternyata belenggu diskriminasi zaman Kartini dan kegelapannya tidak pernah benar-benar berubah menjadi terang setelah lebih dari 100 tahun beliau wafat. Masih banyak perempuan yang belum mendapatkan haknya utuh sebagai manusia. Apalagi perempuan miskin yang memiliki kesempatan sangat terbatas untuk mengubah nasib. Seperti para Tenaga Kerja Wanita atau TKW kita yang dikirim ke luar negeri.

Bagi keluarganya, para TKW merupakan pahlawan yang membawa perubahan di segi ekonomi. Para ibu super yang dipaksa keadaan harus mau berpisah dengan anak-anaknya demi kehidupan yang lebih baik. Seorang istri yang merelakan diri jauh dari keluarga untuk membantu suami bekerja, walaupun kadang-kadang juga terpaksa harus mengikhlaskan sang suami menggunakan uang hasil kirimannya dari luar negeri untuk menikah lagi. Selain itu para “Kartini” ini juga merupakan pahlawan devisa yang mengalirkan pendapatannya ke negerinya sendiri.

Pada kenyataannya para pahlawan ini ternyata mendapat perlakuan yang tidak sesuai di luar negeri. Sebut saja kisah Eni binti Asum, TKW asal Ciarapedes, Purwakarta yang meninggal di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Ibu tiga anak ini meninggal akibat tak mampu menanggung hasil siksaan dari majikannya di Riyadh dengan memberikan 10 suntikan setiap hari yang entah berisi apa.

Kisah pilu tersebut hanyalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan kisah TKW yang lain. Tidak hanya dianiaya, namun juga diperkosa, ditipu, ditelantarkan, bahkan ketika kembali ke Indonesia mendapat perlakuan yang tidak pantas dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab di bandara maupun di perjalanan. Sebagian dari TKW ini dipalak atau dicuri sebagian atau bahkan seluruh hasil keringatnya bekerja di luar negeri. Sebagian lagi diperas oleh PJTKI yang mengirimnya, atau bahkan oleh keluarganya sendiri.

Padahal dunia memuliakan wanita, walaupun ia hanyalah seorang TKW atau Pembantu Rumahtangga sekalipun. Perbudakan sekarang sudah dihapuskan. Seorang TKW memiliki hak dan kesempatan yang lebih luas daripada seorang budak di zaman dahulu. Mereka adalah seorang pahlawan bagi keluarganya, seorang “Kartini” di zaman modern yang seharusnya mendapatkan apresiasi yang cukup dan perlakuan yang adil dari keluarganya, dari pemerintah maupun dari orang yang mempekerjakannya. Jangan sampai “terang” yang telah diperkirakan Kartini akan terjadi di negeri ini terhadap kaum wanita ternyata belum merata.

Sumber: www.alifmagz.com


OTHER ARTICLES