Ketika Wanita Mencintai Gadget

Posted : 1 - 3 - 2011

Seperti mencari kekasih, saat kepincut pada satu gadget, kebanyakan wanita cenderung terkesan pada penampilan fisiknya. Serbuan promosi perangkat teknologi yang didesain makin gaya memang membuat hasrat belanja makin membara. Akibatnya, setiap kali muncul produk baru yang fashionable, kita jadi tergoda. Baru tiga bulan lalu ganti ponsel, sekarang sudah ganti lagi. Belum lagi, kebiasaan yang hinggap pada para pengguna gadget, yaitu kecanduan mengutak-atik, yang bisa bikin lupa waktu. Lantas, bagaimana agar gadget dapat membuat hidup kita lebih terkendali, dan bukan hidup kita yang dikendalikan gadget?

Kini, bukan hanya berlian yang menjadi sahabat wanita. Gadget berteknologi canggih, mulai dari ponsel, laptop, kamera digital, hingga alat pemutar musik (MP3), makin digandrungi. Survei Oxygen Media (jaringan TV kabel AS) terhadap lebih dari 150 wanita, membuktikan hal itu. Ketika diminta memilih antara tas branded dan ponsel yang menampilkan fitur terkini, 78% memilih beli ponsel. Sementara itu, 86 persen memilih video kamera digital produksi teranyar ketimbang sepatu keluaran terbaru dari perancang ternama.

Gadget memang tak lagi identik sebagai ’mainan’ pria. Berdasarkan hasil angket Femina terhadap 100 wanita bekerja berusia 25-35 tahun, 53 persen responden melihat gadget berdesain keren sebagai daya tarik awal, sedangkan 32 persen memilih dengan alasan daya guna alias fitur-fitur canggih.
Ciri khas wanita seperti inilah, menurut sosiolog Ida Ruwaida Noor, yang diamati secara cermat oleh para produsen gadget. Selanjutnya, mereka menjadikan hal itu sebagai peluang bisnis dengan memproduksi lebih banyak gadget tipis, mungil, stylish, dengan warna feminin, dan ringan. ”Karena wanita identik dengan hobi belanja, mereka bisa menjadi segmen konsumen yang menjanjikan,” jelas Ida.

Ida menambahkan, belakangan ini para produsen gadget menyadari, pasar tak cuma menginginkan kecepatan berlipat ganda atau fitur canggih. Mereka melihat pengguna gadget, khususnya wanita, ingin tampil gaya saat memakainya. Fungsinya tidak hanya sebagai perangkat teknologi, tapi kini berkembang menjadi aksesori. Istilah kerennya, tech-cessorize. Anggapan bahwa teknologi bisa membuat hidup lebih mudah dan nyaman, tampaknya makin dirasakan banyak wanita. Wanita berbusana kerja melenggang di area perkantoran sambil menenteng tas laptop, atau sedang mengutak-atik blackberry di sebuah kafe, kini menjadi pemandangan biasa.

Menurut Ida, di era digital ini, wanita makin dituntut untuk melek teknologi. Tujuan membeli pun bukan sekadar untuk membuat hidup lebih mudah dan nyaman, melainkan sebagai simbol profesionalisme dan status sosial. Ida mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap gadget. Karena, jika hanya hidup di dunia gadget, bisa membuat kita lupa dunia luar. ”Jika waktunya Anda beristirahat atau menghabiskan waktu dengan keluarga, simpan dulu gadget Anda. Kalaupun ada SMS dan telepon masuk, Anda bisa menghubungi kembali usai beristirahat. Yang jelas, jangan mau dikendalikan gadget,” saran Ida.

Sumber: www.femina-online.com


OTHER ARTICLES