Penerapan WiMax di Indonesia

Posted : 20 - 1 - 2014

Di Indonesia kendali untuk pengembangan WiMax  sangat tergantung pada pemerintah. Salah satu yang sangat krusial adalah masalah frekuensi. Karena roadmap yang  disepakati dalam WiMAX forum WiMax akan mempergunakan tiga frekuensi, demi menjamin bandwidth yang besar, frekuensinya yang dipergunakan berkisar dari 2 GHz sampai 11 GHz.

Di luar negeri 5,8 GHz itu unlicensed, di sini nggak jelas, tetapi katanya sih sudah mulai crowded juga, yang gelap-gelap. Sedang yang 3,5 GHz itu extended band dipakai oleh PSN, beberapa TV, kemudian yang 2,5 GHz sekarang ini dipakai oleh Indovision.

Yang 2,4 GHz itu dunia rimba, artinya siapa saja boleh pakai. Dulu unlicensed, sekarang dipajak oleh pemerintah Rp. 2,75 juta satu tahun per satu titik. Kalau 2,4 GHz yang digunakan untuk Wi-Fi itu kan range-nya pendek, paling sekitar 45 sampai 100 meter. Kalau 2,4 GHz yang dipakai para ISP, baik licensed maupun unlicenced, itu jaraknya cukup jauh, namun karena itu sudah kayak musim layangan yang benangnya kusut ke sana kemari.

Kendala yang dihadapi adalah ramainya traffik pada frekuensi strategis tersebut, seperti contoh frekuensi 5,8 GHz yang dipakai oleh jaringan komunikasi, 4,5 GHz yang dipergunakan oleh PSN dan juga beberapa stasiun TV.

Sedangkan untuk frekuensi 2,5 GHz dipergunakan oleh satu stasiun televise kabel berbayar. Untuk frekuensi 2,4 GHz dipergunakan oleh berbagai perusahaan telekomunikasi dan terdapat beban pajak Rp. 2,75 juta satu tahun per satu titik.

Melihat keadaan penggunaan frekuensi strategis yang tidak tersusun dengan rapi pemerintah perlu melakukan peninjauan kembali terhadap kebijaksanaannya. Memberikan frekeunsi berpita tinggi untuk kepentingan strategis komunikasi dan memberikan setiap layanan sesuai dengan kuantitas data yang diperlukan.

Beberapa tantangan lain untuk implementasi WiMAX di Indonesia, seperti yang sudah diuraikan yang terpenting adalah pengaturan ulang frekuensi kerja untuk BWA, termasuk untuk WiMAX.

Lalu standarisasi penggunaan perangkat dan pengaturan interoperability dengan memperhatikan trend glogal. Juga peluang yang sangat besar untuk berbagai jenis aplikasi (multimedia) yang memerlukan infrastruktur " high speed access" dengan harga semakin murah. Tantangan lain adalah meningkatkan peluang kompetisi pada sector telekomunikasi, terutama karena implementasinya cukup mudah serta membuka peluang "local content".

Pada saat ini  di Indonesia, izin prinsip penyelenggaraan jaringan WiMAX di frekuensi 2,3 GHz diberikan melalui proses lelang yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Depkominfo yang hasilnya diumumkan pada 16 Juli 2009.

Pada saat ini WiMax diindonesia memang masih dalam pengembangan, tetapi mengingat penting memenuhi kebutuhan bandwidth yang besar dan perhatian pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur WiMax dalam negeri diharapkan dalam 5 tahun kemudian Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dalam penyediaan layanan komunikasi data berkecepatan tinggi.     

Sumber:  saktya.wordpress.com

quiz

Jawablah 5 pertanyaan Quiz edisi Januari - Maret 2014 ini. Bagi 3 pemenang yang
menjawab benar, masing-masing akan mendapat Coaxial Six dari  Cello Audio bagi yang beruntung.

read more